Sabtu, 29 Agustus 2015

Piano Untuk Shani (Inspired from Song: Ame no Pianist)



             Namaku Lucky, Umurku 25 Tahun, aku adalah seorang Karyawan sebuah perusahaan Televisi swasta lokal di Indonesia, aku hidup bersama seorang adik perempuan bernama Shani yang usianya 5 tahun dibawahku, yah orang tua kami memang sudah lama meninggal waktu umurku masih 15 tahun, jadilah Shani sebagai satu – satunya keluarga yang kumiliki di Kota ini, karena semua saudaraku ada di luar kota, kami tinggal di sebuah rumah kecil peninggalan orang tua kami, biarpun kecil yang penting aku masih bisa bersama adikku terus, aku sangat menyayangi dia.
“dek, bangun udah siang, ada jadwal kuliah gak kamu hari ini?” tanyaku sambil membangunkan shani
“eh kakak, jam berapa ini?” tanya Shani sambil menguap ngantuk
“jam 8 pagi” jawabku
“HAH, kenapa kakak gak bangunin daritadi, telat kan nih” jawab shani berteriak
“Udah daritadi dek, yaudah sono mandi, sarapannya beli sendiri aja yah” jawabku sambil menutup kuping
“Oke kak” jawab Shani beranjak dari ranjang
Begitulah Shani, anaknya memang sangat periang, dia Kuliah di salah satu Universitas di Jakarta, aku yang bayarkan uang kuliahnya, itu kan kewajiban seorang kakak.
“Kak, udah yah adek berangkat dulu” sapa Shani terburu – buru, tapi dia tidak pernah lupa untuk mencium tanganku sebelum berangkat, memang hari ini aku sedang libur hari sabtu.
Aku lalu membereskan rumah, mumpung sedang libur yang sangat langka ini. saat aku membereskan gudang, aku menemukan foto saat shani yang waktu itu berumur 7 tahun sedang memainkan sebuah Piano, betapa bahagianya dia saat itu, tetapi kali ini dia terpaksa harus menahan keinginannya untuk bermain Piano lagi karena Piano di rumah yang dulu telah dijual untuk kami bertahan hidup karena orang tua kami yang meninggal dan perusahaannya bangkrut, seketika aku rindu ketika masa kecil kami aku senang mengganggu dia saat sedang asyik bermain piano, lalu muncul dalam ideku bahwa aku akan membelikan dia sebuah Piano agar dia bisa bermain lagi. Lalu aku lanjut membereskan rumah lalu beristirahat, sekitar sejam aku beristirahat, Shani pulang sambil menangis.
“Dek, kenapa?” tanyaku
Shani hanya melihatku lalu berlalu ke kamarnya, aku mengetuk – ngetuk pintu kamarnya yang ia kunci dari dalam tetapi tidak ada respon, sampai malam aku suruh makan pun sama sekali dia tidak menjawab, lalu aku coba menelepon sahabatnya Shani, Angel namanya
“Haloo angel, ini kak lucky
“Eh, Kak Lucky, ada apa yah?”
“Itu kakak mau nanya, Shani kenapa yah? Kok sikapnya setelah pulang kuliah aneh?” tanyaku
“Ohh itu, kan ada lomba piano di fakultas, dia mau ikut dan mau meminjam piano kampus, tetapi tidak diperbolehkan, malah dia diledek teman – temannya orang miskin, gitu kak” terang Angel
“Ohh, oke makasih yah Angel” jawabku sembari menutup telepon
Aku lalu mencoba ke kamar Shani lagi, ternyata pintunya sudah tidak dikunci lagi, dan dia keluar dari kamar
“dek, sini duduk deh” ajakku, lalu dia duduk di sofa
“Oke, kakak sudah tahu semuanya dari angel, kamu sabar aja yah” jawabku coba menenangkan dia
“Tetapi aku sangat menginginkan lomba itu” jawab Shani sambil menundukkan kepala
“Oke, nanti kakak cari solusinya, lombanya masih lama kan?”
“Iya kak”
“Yasudah sana makan terus kerjakan tugas kamu, lalu tidur” perintahku
Lalu shani makan dan kembali ke kamarnya, aku masih bingung karena penghasilanku tidak cukup untuk membeli sebuah Piano, lalu aku cek tabunganku juga masih belum cukup jika digabungkan, aku coba putar otak untuk dapat membelinya sesegera mungkin, tiba – tiba muncul sebuah ide cemerlang.
Lima Hari kemudian aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Shani, saat Shani bangun tidur ia keluar kamar lalu melihat sebuah Piano di sudut ruang tamu, Shani sangat gembira. Aku yang daritadi di dekat pintu rumah langsung masuk dan Shani langsung memelukku karena sangat senangnya,
“Kak, terima kasih banget kak, kakak yang selalu baik banget sama aku” ujar Shani sembari meneteskan air mata
“Itu sudah tugas seorang kakak kan? Intinya kamu berlatihlah dengan itu dan berikan yang terbaik di lomba nanti” ujarku
“Oke kak, aku Janji akan memberikan yang terbaik” ujar Shani
Mulai hari itu dia berlatih dengan sangat keras, ekspresinya yang periang seketika berubah menjadi dingin ketika sedang memainkan pianonya, setiap dia pulang kuliah pasti langsung bermain pianonya, aku sangat senang melihat dia seperti itu,
Akhirnya tiba harinya dimana lomba itu.
“Loh kak, aku baru sadar, motor kakak dimana?” tanya Shani bingung
“yah begitulah” jawabku
“Jadi kakak jual motor kakak demi beli piano untukku?” tanya Shani
“Udah kamu tidak perlu tahu, ini hari perlombaanmu kan? Ayo, kakak sudah pinjam motor papanya michelle” jawabku
“Iya kak” tanya Shani
Lalu kami pun berangkat, sesampainya di tempat perlombaan yang juga kampusnya Shani kami pun masuk dan dia ke belakang panggung sedangkan aku duduk di bangku penonton, sang pembawa acara lalu memanggil peserta satu persatu, aku duduk tenang, tibalah saatnya shani, ia lalu duduk di depan piano yang di sediakan, seluruh audience pun terdiam saat ia mulai memainkan pianonya, terdengar sangat indah ditambah ekspresinya yang sangat dingin menjadikan lagu itu semakin indah, setelah 10 menit memainkan pianonya, lalu disambut tepuk tangan penonton, bahkan sang pembawa acara pun terpukau
“Inilah dia Shani Indira Natio, sang pianist Hujan” lalu disambut tepuk tangan penonton
Shani hanya tersenyum saja, lalu setelah itu ada beberapa performer lagi sampai akhirnya pengumuman lomba, semua peserta sekitar 16 orang dipanggil ke depan, semuanya dimulai dari Juara 3 Namanya Nina, lalu Juara 2 namanya Manda, lalu tiba juara 1, aku mulai pesimis  dan ternyata sang pembawa acara memanggil nama adikku Shani, aku langsung reflek loncat dari kursi, akhirnya usaha dia tidak sia – sia pikirku, lalu saat pulang Shani lantas memelukku
“Terima kasih kak” ujar Shani
“Iya, ayo kita pulang” jawabku
-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar