Namaku Lucky, Umurku 25 Tahun,
aku adalah seorang Karyawan sebuah perusahaan Televisi swasta lokal di
Indonesia, aku hidup bersama seorang adik perempuan bernama Shani yang usianya
5 tahun dibawahku, yah orang tua kami memang sudah lama meninggal waktu umurku
masih 15 tahun, jadilah Shani sebagai satu – satunya keluarga yang kumiliki di
Kota ini, karena semua saudaraku ada di luar kota, kami tinggal di sebuah rumah
kecil peninggalan orang tua kami, biarpun kecil yang penting aku masih bisa
bersama adikku terus, aku sangat menyayangi dia.
“dek, bangun udah
siang, ada jadwal kuliah gak kamu hari ini?” tanyaku sambil membangunkan shani
“eh kakak, jam
berapa ini?” tanya Shani sambil menguap ngantuk
“jam 8 pagi”
jawabku
“HAH, kenapa kakak gak
bangunin daritadi, telat kan nih” jawab shani berteriak
“Udah daritadi dek,
yaudah sono mandi, sarapannya beli sendiri aja yah” jawabku sambil menutup
kuping
“Oke kak” jawab
Shani beranjak dari ranjang
Begitulah Shani,
anaknya memang sangat periang, dia Kuliah di salah satu Universitas di Jakarta,
aku yang bayarkan uang kuliahnya, itu kan kewajiban seorang kakak.
“Kak, udah yah adek
berangkat dulu” sapa Shani terburu – buru, tapi dia tidak pernah lupa untuk
mencium tanganku sebelum berangkat, memang hari ini aku sedang libur hari
sabtu.
Aku lalu
membereskan rumah, mumpung sedang libur yang sangat langka ini. saat aku
membereskan gudang, aku menemukan foto saat shani yang waktu itu berumur 7
tahun sedang memainkan sebuah Piano, betapa bahagianya dia saat itu, tetapi
kali ini dia terpaksa harus menahan keinginannya untuk bermain Piano lagi
karena Piano di rumah yang dulu telah dijual untuk kami bertahan hidup karena
orang tua kami yang meninggal dan perusahaannya bangkrut, seketika aku rindu
ketika masa kecil kami aku senang mengganggu dia saat sedang asyik bermain
piano, lalu muncul dalam ideku bahwa aku akan membelikan dia sebuah Piano agar
dia bisa bermain lagi. Lalu aku lanjut membereskan rumah lalu beristirahat,
sekitar sejam aku beristirahat, Shani pulang sambil menangis.
“Dek, kenapa?”
tanyaku
Shani hanya
melihatku lalu berlalu ke kamarnya, aku mengetuk – ngetuk pintu kamarnya yang
ia kunci dari dalam tetapi tidak ada respon, sampai malam aku suruh makan pun
sama sekali dia tidak menjawab, lalu aku coba menelepon sahabatnya Shani, Angel
namanya
“Haloo angel, ini
kak lucky”
“Eh, Kak Lucky, ada
apa yah?”
“Itu kakak mau
nanya, Shani kenapa yah? Kok sikapnya setelah pulang kuliah aneh?” tanyaku
“Ohh itu, kan ada
lomba piano di fakultas, dia mau ikut dan mau meminjam piano kampus, tetapi
tidak diperbolehkan, malah dia diledek teman – temannya orang miskin, gitu kak”
terang Angel
“Ohh, oke makasih
yah Angel” jawabku sembari menutup telepon
Aku lalu mencoba ke
kamar Shani lagi, ternyata pintunya sudah tidak dikunci lagi, dan dia keluar
dari kamar
“dek, sini duduk
deh” ajakku, lalu dia duduk di sofa
“Oke, kakak sudah
tahu semuanya dari angel, kamu sabar aja yah” jawabku coba menenangkan dia
“Tetapi aku sangat
menginginkan lomba itu” jawab Shani sambil menundukkan kepala
“Oke, nanti kakak
cari solusinya, lombanya masih lama kan?”
“Iya kak”
“Yasudah sana makan
terus kerjakan tugas kamu, lalu tidur” perintahku
Lalu shani makan dan kembali ke kamarnya, aku masih bingung karena
penghasilanku tidak cukup untuk membeli sebuah Piano, lalu aku cek tabunganku
juga masih belum cukup jika digabungkan, aku coba putar otak untuk dapat
membelinya sesegera mungkin, tiba – tiba muncul sebuah ide cemerlang.
Lima Hari kemudian
aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Shani, saat Shani bangun tidur ia
keluar kamar lalu melihat sebuah Piano di sudut ruang tamu, Shani sangat
gembira. Aku yang daritadi di dekat pintu rumah langsung masuk dan Shani
langsung memelukku karena sangat senangnya,
“Kak, terima kasih
banget kak, kakak yang selalu baik banget sama aku” ujar Shani sembari
meneteskan air mata
“Itu sudah tugas
seorang kakak kan? Intinya kamu berlatihlah dengan itu dan berikan yang terbaik
di lomba nanti” ujarku
“Oke kak, aku Janji
akan memberikan yang terbaik” ujar Shani
Mulai hari itu dia
berlatih dengan sangat keras, ekspresinya yang periang seketika berubah menjadi
dingin ketika sedang memainkan pianonya, setiap dia pulang kuliah pasti
langsung bermain pianonya, aku sangat senang melihat dia seperti itu,
Akhirnya tiba
harinya dimana lomba itu.
“Loh kak, aku baru
sadar, motor kakak dimana?” tanya Shani bingung
“yah begitulah”
jawabku
“Jadi kakak jual
motor kakak demi beli piano untukku?” tanya Shani
“Udah kamu tidak
perlu tahu, ini hari perlombaanmu kan? Ayo, kakak sudah pinjam motor papanya
michelle” jawabku
“Iya kak” tanya
Shani
Lalu kami pun
berangkat, sesampainya di tempat perlombaan yang juga kampusnya Shani kami pun
masuk dan dia ke belakang panggung sedangkan aku duduk di bangku penonton, sang
pembawa acara lalu memanggil peserta satu persatu, aku duduk tenang, tibalah
saatnya shani, ia lalu duduk di depan piano yang di sediakan, seluruh audience
pun terdiam saat ia mulai memainkan pianonya, terdengar sangat indah ditambah
ekspresinya yang sangat dingin menjadikan lagu itu semakin indah, setelah 10
menit memainkan pianonya, lalu disambut tepuk tangan penonton, bahkan sang
pembawa acara pun terpukau
“Inilah dia Shani
Indira Natio, sang pianist Hujan” lalu disambut tepuk tangan penonton
Shani hanya
tersenyum saja, lalu setelah itu ada beberapa performer lagi sampai akhirnya
pengumuman lomba, semua peserta sekitar 16 orang dipanggil ke depan, semuanya
dimulai dari Juara 3 Namanya Nina, lalu Juara 2 namanya Manda, lalu tiba juara
1, aku mulai pesimis dan ternyata sang
pembawa acara memanggil nama adikku Shani, aku langsung reflek loncat dari
kursi, akhirnya usaha dia tidak sia – sia pikirku, lalu saat pulang Shani
lantas memelukku
“Terima kasih kak”
ujar Shani
“Iya, ayo kita
pulang” jawabku
-TAMAT-